Jumat, 13 Mei 2016

MAKALAH ASKEB II Tentang EVALUASI NILAI APGAR DAN RESUSITASI

BAB II
PEMBAHASAN

1.    Evaluasi nilai APGAR
Penilaian keadaan umum bayi dinilai satu menit setelah lahir dengan penggunaan nilai Apgar. Penilaian ini perlu untuk menilai bayi apakah bayi menderita asfiksia atau tidak.
 Adapun penilaian meliputi:
Ø  frekuensi jantung ( heart rate )
Ø  asuhan nafas ( respiratoryeffert )
Ø  tonus otot ( mucle tone )
Ø  warna kulit ( colour )
Ø  reaksi terhadap ransangan ( respon to stimuli )

Setiap penilaian deberi angka 0, 1 dan 2. Dari hasil penilaian tersebut diketahui apakah bayi normal (vigorous baby = nilai Apgar 7-10), asfiksia sedang-ringan (nilai Apgar 4-6), atau bayi menderita asfiksia berat ( nilai Apgar 0-3 ). Bila nilai Apgar dalam 2 menit tidak mencapai 7, maka harus dilakukan tindakan resusitasi lebih lanjut. Karena kalau bayi menderita asfiksia lebih dari 5 menit kemungkinan terjadi gejala-gejala neurologik lanjutan dikemudian hari akan lebih besar, maka penilaian Apgar dilakukan selain pada 1 menit juga 5 menit setelah bayi dilahirkan.
Tabel penghitungan nilai Apgar (NA)

Penilaian
Nilai=0
Nilai=1
Nilai=2
Jumlah NA
Apearance
(warna kulit)
Pucat
Badan merah,ekstremitas biru
Seluruh tubuh kemerh-merahan

Pulse rate
(Frekuensi nadi)
Tidak ada
Kurang dari 100
Lebih dari 100

Grimance
(reaksi ransangan)
Tidak ada
Sedikit gerakan mimik (grimance)
Batuk/bersin

Actifity
(tonus otot)
Tidak ada
Ekstremitas dalam sedikit fleksi
Gerakan aktif

Respiration
(pernafasan)
Tidak ada
Lemah/tidak teratur
Baik/menangis







2.    Resusitasi
Usaha dalam memberikan ventilasi yang adekut, pemberian oksigen dan curah jantung yang cukup untuk menyalurkan oksigen pada otak, jantung dan alat-alat vital lainnya.
Jaminan adanya fasilitas resusitasi yang adekuat dalam ruang bersalin sangat mutlak diperlukan. Ketika lahir banyak bayi yang telah menderita kerusakan otak yang irreversibel, namun tidaklah dapat diterima kalau terjadinya kerusakan sesudah lahir hanya karena peralatan yang tidak memadai atau petugas yang tidak telitih. Sekitar 25% atau 2/3 dari semua kelahiran membutuhkan resusitasi sedang 1/3 jumlah kasus resusitasi terjadi pada bayi-bayi yang lahir normal yang kelihatannya tidak mengandung faktor resiko.
Hal ini sebenarnya hampir selalu selalu tidak diperlukan kecuali cairan amnion tercemar dengan mekonium atau darah. Penghisapan faring yang agresif dapat memperlambat dimulainya nafas spontan untuk waktu yang cukup lama. Setelah lahir hendaknya bayi segera dibersihkan dari cairan dengan handuk hangat untuk mengurangi kehilangan panas lewat penguapan sekaligus untuk mengamati adanya kelainan pada bayi. Hal ini penting karena bayi akan mulai bernafas selama periode karena waktu median dimulainya nafas spontan hanyalah 10 detik. Bila perlu bayi dapat diransang untuk bernafas dengan stimulasi kulit mensalnya sentilan kaki. Untuk bayi yang tidak segera bernafas pada periode ini harus segera diberikan pertolongan resusitasi.
Adapun langkah-langkah resusitasi:

a)      Langkah Resusitasi untuk keberhasilan
·         ResusitasiJangan menunggu untuk menentukan nilai Apgar satu menit untuk memulai resusitasi. Semakin lambat memulai, akan semakin sulit melakukan resusitasi.
·         Semua petugas yang terlibat dalam persalinan harus telah dilatih secara memadai, efisien, dapat bekerja sebagai tim, dan semua peralatan yang diperlukan harus tersedia dalam keadaan berfungsi baik.

b)      Sebelum persalinan dimulai
·         Informasikan unit neonatologi mengenai adanya persalinan resiko tinggi yang sedang terjadi. Dokter spesialis anak atau petugas kesehatan yang terampil dan terlatih dalam resusitasi harus menghadiri semua persalinan resiko tinggi.
·         Untuk persalinan normal, petugas yang ahli dalam resusitasi neonatus harus hadir.
·         Untuk asfiksia, dua petuga yang ahli dalam resusitasi dan dua asisten harus hadir.
·         Semua peralatan harus disiapakan dan dicek fungsinya sebelum persalinan.
·         Pemanas dinyalakan handuk hangat tersedia.
·         Cek alat penghisap lendir, oksigen, sungkup wajah dengan ukuran yang sesuai dengan berat bayi, serta balon resusitasi.
·         Siapkan obat-obatan, kateter umbilikal, dan sebuah baki.


c)      Setelah persalinan
·         Saat bayi lahir lakukan penilaian sebagai berikut:Apakah kehamilan cukup bulan
·         Apakah air ketuban jernih dan tidak terkontaminasi mekonium
·         Apakah bayi bernafas adekuat atau menangis
·         Apakah tonus otot bayi naik



d)     Langkah awal resusitasi
·         Tempatakan bayi dibawah pemanas radian/infant warmer
·         Letakkan bayi terlentang pada posisi setengah tengadah untuk membuka jalan nafas.
·         Sebuah gulungan handuk diletakkan dibawah bahu untuk membantu mencegah fleksi leher dan penyumbatan jalan nafas.
·         Bersihkan jalan nafs atas dengan menghisap mulut terlebih dahulu kemudian hiding, dengan menggunakan bulb sringe, alat penghisap lendir, atau kateter penghisap. Perhatikan untuk menjaga bayi dari kehilangan pans setiap saat.
·         Catat: penghisapan dan pengeringan tubuh dapat dilakukan bersamaan bila air ketuban bersih dari mekonium
·         Penghisapan yang kontinyu dibatasi 3-5 detik pada satu penghisapan. Mulut diisap terlebih dahulu untuk mencegah aspirasi.
·         Penghisap lebih agresif hanya boleh dilakukan jika terdapat mekonium pada jalan nafas.
·         Keringkan, stimulasi, ganti kain yang basah dengan kain yang kering, dan reposisi kepala
·         Tindakan yang dilakukan sejak bayi lahir sampai reposisi kepala dilakukan tidak lebih dari 30 detik.
·         Menilai pernafasan.
·         Jika bayi mulai bernafas secara teratur dan memadai, periksa denyut jantung. Jika denyut jantung > 100 kali/menit dan bayi tidak mengalami sianosis, hentikan resusitasi.

e)      Ventilasi tekanan fositif
·         Jika tidak terdapat pernafasan atau bayi menggangap, ventilasi tekanan positif (VTP) diawali dengan menggunakan balon resusitasi dan sungkup, dengan frekuensi 40-60 kali/menit
·         Jika denyut jantung < 100 kali/menit, bahkan dengan pernafasan memadai, VTP harus dimulai pada kecepatan 40-60/menit
·         Intubasi endotrakea diperlukan jiwa bayi tidak berespons terhadap VTP dengan menggunakan balon dan sungkup. Lanjutkan VTP dan bersiaplah untuk memindahkan bayi.

f)       Kompresi dada
·         Jika denut jantung masih < 60 kali/menit setekah 30 detik VTP yang memadai, kompresi dada harus dimulai
·         Kompresi dilakukan pada sternum di proksimal dari prosesus sifoideus, jangan menekan di atas sifoid. Kedua ibujari petugas yang meresusitasi digunakan untuk menekan sternum, sementara jari-jari lain mengelilingi dada, atau jari tengah dan telunjuk dari satu tangan dapat digunakan untuk kompresi sementara tangan lain menahan punggug bayi. Sternum dikompres sedalam 1/3 tebal antero-posterior dada.
·         Kompresi dada diselingi ventilasi secara sinkron terkoordinasi dengan rasio 3 : 1. Kecepatan kombinasi kegiatan tersebut harus 120/menit (yaitu 90 kompresi dan 30 ventilisasi). Setelah 30 detik, evaluasi respons.jika denyut jantung > 60/menit, kompresi dada dapat dihentikan dan VTP dilanjutkan hingga denyut jantung ,encapai 100 kali/menit dan bayi bernafas aktif.

g)      Pemberian obat
·         Efinefrin harus diberikan jika denyut jantung tetap < 60 kali/menit setelah 30 detik VTP dan 30 detik lagi VTP dan kompresi dada. Dosis efinefrin adalah 0,1-0,3 ml/kg berat badan larutan 1:10.000 secara intravena, melalui vena unbilikal. Bila diberikan melalui pipa endotrekal, dosis adalah 0,3-1,0 ml/kg berat badan.

h)      Perawatan lanjutan
·         Catat nilai Apgar untuk menit ke-1 dan ke-5 dalam rekam medik.
·         Jika bayi memerlukan asuhan intensif, rujuk rumah sakit terdekat yang memiliki kemampuan yang memberikan dukungan ventilator, untuk memantau dan memberikan perawatan pada neonatus.
·         Jika bayi dalam keadaan stabil, pindahkan keruangan neonatal untuk dipantau dan ditindaklanjuti.
·         Di ruang neonatal, ikuti panduan asuhan neonatus normal untuk pemeriksaan fisik dan tindakan profilaksis.
·         Jika sudah tidak terdapat komplikasi selama 24 jam, neonatus dapat keluar dari  unit neonatal. Informasikan kepada petugasbdan orang tua/keluarga tentang tanda bahaya.
Catatan:
Ø  Tidak dilakukan resusitasi dapat diterima pada kehamilan < 23 minggu atau berat lahir <400 gram.
Ø  Resusitasi dinyatakan gagal dan dihentikan bila bayi menunjukan asistole selama 10 menit setelah dilakukan resusitasi yang ektensif.



i)        Peralatan untuk mengghisap lendir.
·         Bulb syringe
·         Kateter penghisap (ukuran 5 atau 6, 8, dan 10 fr)
·         Aspirator mekonium
·         Pengisapan dan pipa mekanik
·         Pipa lambung ukuran 8 fr dan spuit 20 cc

j)        Peralatan balon dan sungkup resusitasi
·         Balon resusitasi bayi yang mampu memberikan oksigen 90-100% dan mempunyai katup pelepas tekanan / alat ukur tekanan.
·         Oksigen dengan pengukur aliran dan selang.
·         Sungkup / masker wajah dengan pinggiran bantalan  ukuran bayi yang cukup bulan dan prematur.
·         Kateter nasal.
·         Oral airway, ukuran bayi cukup bulan dan prematur.

k)      Peralatan intibusi
·         Laringoskop dengan daun lurus, ukuran 00 (sangat prematur), 0 (prematur), dan 1 (neonatus cukup bulan).
·         Bola lampu dan baterai cadangan untuk laringoskop.
·         Papa ET (ukuran 2,5; 3; 3,5 dan 4,0).
·         Gunting.
·         Sarung tangan.

l)        Obat-obatan
·         Epinefrin 1 : 10.000 (0,1 mg/ml –ampul 3 ml atau 10 ml.
·         Natrium bikarbonat 4,2% (5 mEq/10 ml)- ampil 10 ml.
·         Nalokson 0,4 mg/ml (ampul 1 ml), atau 1,0 mg/ml (ampul 2 ml).
·         Dekstrosa 10% dalam air (250 ml).
·         Air steril / akuades (30 ml).
·         Penambahan volume salah satu atau lebih dari NaCl 0,9% Ringer laktat, darah.










Gambar alat Resusitasi



Description: F:\bluetooth\Screenshot_2015-12-25-20-20-06-1.png












Daftar pustaraka
Widyastuty Yani. 2008. Perawatan Ibu Bersalin. Yogyakarta: 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar